ALLAH PASTI DENGAR

Gap year- satu tahun waktu yang cukup lama untuk menentukan langkah dalam memilih jalan hidup selanjutnya (dalam waktu satu tahun seseorang dapat melakukan hal luar biasa). Sayangnya aku tetap tidak mudah untuk memilih. Saat itu yang ku tahu hanyalah ingin menempuh pendidikan di kampus ber almamater kuning karung goni itu. Qodarullah, Allah berkehendak lain. Jikalau takdir adalah hasil pilihan-pilihan dalam hidup, barangkali usahaku kurang maksimal untuk duduk di bangku universitas tersebut. Bukankah hasil tidak mengkhianati proses? Lalu aku bercermin, sudah sejauh mana usahaku. Cerita ini adalah kisah dua tahun yang lalu.

Dulu, dua tahun lalu aku bingung ingin memilih jurusan apa saat kuliah nanti. Jurusan kedua yang kupilih tentunya, karena yang pertama sudah pasti aku akan memilih ekonomi.

Opsi kedua aku bimbang, di satu sisi aku ingin belajar keagamaan lebih mendalam. Oleh karena itu aku memilih sastra Arab saat itu. Namun orangtua ku menentang dengan keras.

Beliau berdua memang tidak menyetujui, maklum saja bahwa orang tua ingin anaknya bekerja menjadi pegawai pemerintahan dengan jurusan umum di perguruan tinggi. Dan karena sastra Arab sangat tidak umum menjadikan mereka menentang keras.

Saat itu yang harus aku lakukan adalah memutar otak dengan keras. Jika memang sastra Arab tidak aku dapatkan maka jalan yang aku tempuh haruslah aku berkuliah di tempat perguruan tinggi Islam. Saat itu yang kupikirkan adalah mendapat lingkungan yang Islami.

Betul saja, dulu aku tidak menyadarinya tetapi aku sadar sekarang bahwa Allah mendengar doaku. Saat ini aku berkuliah di fakultas ekonomi dan bisnis universitas Ahmad dahlan. Lingkungan kampus sangat mendukung dengan keinginanku.

Sungguh Allah Maha Mendengar. Dua tahun lalu pun aku menuliskan impian di sebuah kertas, salah satunya menjadi aktivis dakwah dikampus. MasyaAllah.. tanpa disadari pun sekarang sudah terwujud. Terkadang memang aku tidak menyadari, kekuatan sebuah impian dibarengi usaha dan doa pasti akan tercapai. Entah kapan tercapainya, Allah pasti mengabulkan itu saat kita sudah siap menerimanya. Allah yang Maha Tahu apakah kita sudah siap atau belum, sedangkan kita adalah hamba yang bodoh.

Tanpa disadari sesungguhnya Allah sudah banyak mengabulkan apa-apa yang kita inginkan dengan sungguh-sungguh. Walaupun bukan saat ini, tetapi yakin pasti Allah mengabulkan suatu saat nanti. Jikalau memang tidak terkabul bisa jadi memang sesuatu tersebut tidak baik bagi kita, dan Allah menggantinya dengan yang lebih baik. Sesuatu yang baik oleh kita bisa jadi tidak baik menurut Allah, Allah yang lebih tahu.

Biarlah tulisan ini untuk tempat mengingatkanku bahwa aku pernah ada dalam waktu itu- saat aku merasa bahwa hanya Dia satu-satunya tempatku memohon segala petunjuk dan Dia pula yang Maha menunjukkan ku jalan.

Iklan

Terimakasih Juni

Hai 5 Juni, kita bertemu lagi. Dulu aku selalu memimpikan bagaimana hidupku diangka usiaku saat ini, ternyata sampai juga.. Terimakasih Juni ku.

Walau aku tahu hakikat bertambahnya usia adalah semakin berkurangnya jatah hidup. Namun lagi lagi aku bersyukur dapat merasakan indahnya hidup hingga saat ini.

Juni ku, kamu lah saksi perjumpaan ku dengan umur baru. Kamu yang paling awal mengucapkan beribu doa untukku, aku ingin meng-Aamiin-kan. Semoga Dia berkenan mengabulkannya.

Terimakasih Juni, saat ini aku sedang mengenang hidupku bersamamu, semoga banyak yang dapat aku rubah dari sikap burukku selama ini hingga menjumpai kau di tahun berikutnya dengan menjadi diriku yang lebih baik.

Bantu aku menjadi lebih baik, Juni.

Kuliah itu Susah, Tapi Masih Susah Perjuangan Orangtua Nguliahin Anaknya

Di semester ini adalah masa-masa dimana leyeh-leyeh itu tidak ada. Kaget, iya! Dari yang semester-semester sebelumnya hanya di guyur oleh teori-teori dan sekarang harus terjun bebas dalam dunia penelitian itu rasanyaaa … jadi pengen nikah aja daripada kuliah.. #hiks_pikiran_macam_apa_ini

Ini masih kuliah, belum kerja, belum ada tanggung jawab lebih saja sudah banyak mengeluh. Bayangkan keringat orangtua yang harus membiayai kuliah anaknya, ngga ngeluh tuh?

Hmm… lagi-lagi nasihat yang jleb banget untuk diri ini.

Aku boleh sedikit curhat? Jadi begini, situs WhatsApp saat ini seperti yang kita tahu sudah di fasilitasi fitur ‘status. Tapi kok apa hanya aku yang merasa fitur ini sangat merugikan anak bangsa, mungkin kelebihannya memang ada, tetapi kelemahannya juga banyak. Salah satunya, anak jaman sekarang suka banget ngeluh di fitur ini, terlebih dalam lingkungan ku adalah mahasiswa-mahasiswa yang kerjaannya mengeluh betapa susahnya kuliah, garap inilah, penelitian inilah, dan lain-lain. Aku mengerti benar betapa beratnya kuliah, tetapi itu semua tidak harus di pulbis, kan? Lha yang milih kuliah dulu siapa, kok harus orang lain yang menerima keluhan mu?

Jika oleh mu terasa berat anggap saja kuliah sebagai perantara mu berbakti dengan orangtua, sadar atau tidak, orangtua adalah motivator terbesar selama seorang anak kuliah. Di saat kita lelah dan dalam keadaan lain yang lebih payah, coba ingat orangtua, yakin deh langsung semangat lagi. Walaupun kuliah tidak semata-mata hanya untuk orangtua melainkan untuk pribadimu sendiri.

Allah tidak akan membebani hamba-Nya melebihi batas kemampuannya, yakini ini InsyaAllah jalan pikiran terbuka lebar..

Dari aku yang masih juga suka mengeluh

Tidak Semua Harus Sama

Tentang kebebasan yang digaungkan adalah dilema bagiku sebagai seorang perempuan. Lagi dan lagi, kesetaraan gender masih menjadi bahan yang “sexy” untuk dibicarakan. Wanita Indonesia adalah wanita dipersimpangan, maybe, menurut aku sejauh ini. Kita sebagai wanita Indonesia dihadapkan dengan perubahan zaman yang amat maju dan canggih, bandingkan dengan kehidupan ibu kita dahulu, hal apa yang didapat dengan keadaan serba terbatas?
Aku sebagai wanita Indonesia yang sarat akan budaya, mencoba dengan bangga menjalankan dan melestarikan ciri khas kaum wanita Indonesia yang lemah lembut namun harus cekatan. Aku sebagai wanita muslim mencoba menjalankan ajaran agamaku. Adalah sekarang aku sebagai gadis modern yang berani merealisasikan mimpi-mimpi dengan didukung oleh lingkungan.
Aku, kamu-kita, sebagai perempuan Indonesia dihadapkan dengan modernisasi yang berbenturan dengan agama dan budaya. Apakah mereka-kaum laki-laki kira mudah menyatukannya dengan utuh?
Aku berpendapat sebagai wanita merdeka, saat ini hampir sudah tidak ada lagi perbedaan kebebasan antara laki-laki dan perempuan. Potensi di dalam perempuan terkadang memiliki andil yang cukup besar dalam lingkungannya (lingkungan sekolah, organisasi maupun lingkungan kerja). Bahkan terkadang potensinya melebihi kaum laki-laki. Right?
Namun paham feminisme pun aku tidak sepenuhnya setuju. Laki-laki dengan perempuan sama saja, hanya berbeda jenis kelamin, menurut mereka. Bagaimana? Bukankah sebagai seorang muslim kita harus percaya bahwa laki-laki adalah imam dan perempuan adalah makmum. Sebagai wanita Indonesia pun aku rasa paham feminisme tidak bisa ditelan mentah, perempuan mempunyai kodrat sendiri namun tetap dengan segala keistimewaannya.
Paham feminism hadir dari mereka yang dahulunya menjatuhkan perempuan dengan sangat ironis. Perempuan hanyalah dianggap pabrik untuk memasak, dan beranak. Miris bukan?
Aku- wanita Indonesia yang berbudaya, muslim, yang hidup dizaman serba instan ini- hanya perlu dimuliakan tidak untuk diangkat ataupun dijunjung tinggi melebihi kaum pria.

 

 

Selesaikan tugasmu, ya?

Kamu-kita, pasti akan pulang. Pasti akan kembali ke tempat  yang Sang Rahman janjikan untuk para hamba beriman.

Namun, apakah di sana kita akan beristirahat dengan tenang atau kembali berjuang melawan siksaan, itu bergantung pada ikhtiar kita sekarang!

Untuk itu, selesaikam tugasmu, ya? Selesaikan dengan baik. Dengan penuh keikhlasan dan kesabaran.

Biarkan. Biarkan peluh  membasahi seluruh badan. Airmata meluncur deras laksana hujan. Kaki dan tangan bergantian dalam melewati  medan juang.

Biarkan. Biarkan tubuhmu merasa lelah dalam perjuangan. Agar mereka kelak dapat bersuara lantang. Membelamu di hari persidangan.

Bairkan. Biarkan segalanya berjalan atas kehendak tuhan. Jangan lawan hati yang tak pernah ingin diam dalam perjuangan. Biarkan mereka menyelesaikan tugasnya, agar dapat segera pulang.

Dalam tenang.

Menjadi pemenang.

Dihari persidangan.

Selesaikan tugasmu,  ya. Kita istirahat nanti. Di tempat terindah yang kau tulis dalam deretan mimpi 🙂

 

 

­_tulisan dari kamu (bidadari tak bersayap)

Waktu membunuhku

Waktu berlalu sangat cepat. Setiap bunyi detakan jarum jam yang lewat, lewat pula waktu yang kita miliki. Tidak terasa usiaku sudah menjelang Duapuluh satu tahun, padahal aku merasa baru kemarin rasanya mendapat kejutan di ulang tahun yang ke tujuhbelas.

Iya, waktu. Sesuatu yang bahkan kita meminta dengan sangat mengiba tetapi tidak akan dapat kembali lagi. Aku orang yang sangat sensitif jika disinggung dengan waktu, terlebih usia. Entah mengapa. Tapi aku rasa karena di usiaku yang sudah berkepala dua ini tapi tidak produktif sama sekali.

Detik demi detik berlalu. Hari demi hari pun juga berlalu. Waktu bergerak bagai roda. Bergerak terus menerus. Tanpa ampun. Banyak sekali kekhawatiran dalam diriku, mungkinkah kamu juga merasakannya, atau hanya aku?

Apakah kekhawatiran ini adalah sesuatu yang wajar atau tidak, aku tidak tahu. Atau jangan-jangan aku harus pergi ke psikolog untuk mengatasi jiwaku yang tidak karuan. Ah entahlah. Aku lebih suka merenung. Ke psikolog bukan sesuatu yang gampang. Ada dua permasalahan jika harus pergi ke psikolog; pertama budget, kedua adalah pandangan sekitar tentang seseorang yang pergi ke psikolog. Kamu tahulah pandangan apa itu.

Selanjutnya, waktu bisa merubah seseorang. Jika kebanyakan temanku selalu bilang “jangan cari aku dimasa lalu, karena aku yang dulu berbeda dengan aku yang sekarang”. Lantas bagaimana dengan aku???

Galuh, tepuk jidat mu berkali-kali kalau perlu benturkan. Berubah lah. Please. Mendewasalah, Luh.

Setiap orang bisa berubah. Waktu memang kejam, merubah seseorang tanpa permisi. Dan kamu jangan mau kalah dengan waktu. Buktikan bahwa kamu bisa, Luh.

Bukankah Allah sudah berjanji bahwa setiap kesulitan selalu ada kemudahan? Yang kamu perlukan hanya niat. Iya, niat! Niatlah, lakukanlah, selanjutnya Allah yang akan menguatkan. Allah hanya ingin lihat kamu mempunyai kemauan untuk berubah.

Bukankah usia muda adalah masa yang paling berharga? Maka jangan sia-siakan itu.

Oke.

Aku bisa berubah. Aku bisa mengejar ketertinggalan. Aku tidak kesulitan karena Allah selalu bersamaku. Aku hanya perlu curhat dengan Allah. Aku tidak akan sia-siakan usia yang suatu saat akan kupertanggungjawabkan kelak.

Hei, kamu!

Setiap manusia pasti ada seseorang yang menginspirasinya. Entah dalam hal apapun. Dalam pekerjaan, pendidikan, kesehatan, religiusitas, dll. Begitupun aku. Aku akan mencoba menguraikan seseorang yang menjadi inspirasiku untuk berubah hingga saat ini. Dan aku tidak pernah malu untuk menceritakannya.

Berawal ditahun 2014, tahun yang tak akan aku lupakan. Saat itu yaitu saat pergantian dari kelas dua ke kelas tiga Sekolah Menengah Kejuruan. Waktu libur adalah saat dimana aku dan teman-teman seangkatan harus melaksanakan PKL (Praktik Kerja Lapangan).

Teman-teman dalam satu jurusan denganku, Tanaman Pangan dan Hortikultura, kami ditempatkan di Lampung Timur, detail tempatnya aku lupa. Dua minggu pertama di tempatkan di sebuah perusahaan benih tanaman pangan di bagian kantornya, aktivitas ini berjalan biasa saja dan lancar jaya. Minggu selanjutnya aku dan teman-teman kelompokku ditempatkan di pembibitan tanaman buah. Cerita yang tak akan kulupakan berawal dari sini.

Pernahkah dari kamu mendengar kisah seseorang yang bahkan tidak melihatnya secara langsung tapi membuatmu takjub? Jika iya, kita sama. Entah dari mengapa aku takjub padahal diluar sana pun pastinya ada seseorang yang ceritanya lebih menakjubkan dibanding dirinya.

Aku mengenal sosok yang ku panggil dengan sapaan “mbak” dari teman-teman kelompok lain yang sudah lebih dulu melaksanakan tugas di pembibitan tanaman buah itu. Mengapa ku panggil “mbak”? Sudah pasti karena lebih tua dariku. Beliau saat itu juga sedang melaksanakan KKN. Usiaku dan dirinya terpaut empat tahun. Desas desus itu sampailah ke telingaku, yang bahkan aku sampai ingin berangkat pagi-pagi untuk dapat bertemu dengannya hanya karena cerita dari teman-teman perempuan ku. (Perbincangan teman-temanku tidak akan ku tulis disini, ada bagian yang aku lupa, dan melalui pertimbanganku memang tak perlu ditulis🙂)

Aku menyukai sosoknya. Sangat suka. Sosoknya yang berdiri anggun dengan jilbab lebarnya hingga menutupi bagian bawah tubuhnya. Beliau yang bertutur kata bersaja, ramah dan bersahabat.

Akan kutuliskan disini sebuah rahasia (jika dibaca orang sudah bukan rahasia lagi) aku menganguminya. Namun namun namun ………. Aku tak pernah sekalipun punya keberanian mencoba berbincang dengannya. Yup benar sekali aku hanya mengandalkan teman-temanku sebagai sumber informasi! Entah mengapa aku tak punya keberanian untuk melakukannya.

Aku bahkan mencari sosial medianya dan aku ikuti. Apapun itu dari Facebook, Twitter, dan Instagram. Dulu bahkan aku pun mendapatkan pin BBMnya dan sempat beberapa kali mencoba membangun komunikasi dengannya. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang ku ajukan kepadanya dari masalahku kepada temanku dan meminta sarannya, sampai pertanyaan yang mendasar yaitu bagaimana cara meninggalkan celana jeans yang selama ini kupakai agar tergantikan dengan rok.

Berselang beberapa hari setelah mengenalnya aku memutuskan untuk memakai jilbab double karena jilbabku tipis, aku baru menyadari bahwa jikbabku tipis padahal aku sudah memakai jilbab dengan bahan seperti itu bertahun-tahun. Benar-benar hebat mampu membuatku melakukan hal yang diluar kewajaran ku. Oh iya aku ingat.. ada temanku namun beda kelompok berkomentar, kira-kira begini komentarnya “Sudahlah Galuh, jadi diri sendiri saja, tidak usah mengikuti orang lain”. Komentarnya itu tidak ku gubris, biarlah, aku hanya mencoba menjadi orang yang lebih baik dari yang kemarin. Menjadi lebih baik, itu saja.

Waktu bergulir begitu saja, beliau menyelesaikan KKNnya lebih dulu meninggalkan kami yang masih lama untuk menyelesaikan tugas PKL. Setelah dua minggu ditempat yang sama dengan beliaupun aku harus ditempatkan ditempat lain lagi yaitu, pembibitan tanaman hias. Dadah mbak😔

Lanjut..

Aku mengupdate cerita-cerita hidup beliau melalui media sosialnya. Dia yang mempunyai banyak sahabat, dia yang lulus kuliah dan sekarang dia baru saja menikah.

Kekaguman ini ada sampai sekarang. Saat iman melemah, saat diri malas, dan tabiat buruk lainnya. Aku tinggal membuka media sosialnya. Dan… Taraaaa… aku mempunyai motivasi untuk berubah lagi.

Hai mbak! Akankah kau baca tulisan ini? Entahlah… kurasa tidak mungkin. Andai saja kau mulai kembali aktivitas ngeblogmu, akan kutegur sapa kau. Ah waktu berlalu begitu cepat… kau memang selalu berada didepan dan aku akan menjadi sosok yang akan selalu mengikuti setiap inci jejak mu. Ya itulah aku.